Makna dan Cara Memperoleh Husnul Khatimah
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
SECARA bahasa, husnul khatimah berasal dari bahasa Arab yaitu husnun (حُسْنٌ) dan khâtimatun (خَاتِمَةٌ). Husnun bermakna baik atau indah, sedangkan khâtimatun sering diartikan dengan penutup atau akhir. Sementara menurut istilah husnul khâtimah ialah sebuah akhir atau penutupan yang indah. Kebalikannya ialah sûul khâtimah yaitu akhir yang buruk. Dua istilah ini sering kali digandengkan sebagai tolak ukur keberhasilan seseorang dalam menjalani kehidupan.
Al-Qur’an sangat menekankan untuk memperoleh husnul khatimah. Perhatian itu berangkat dari sebuah keyakinan bahwa apabila seseorang berhasil meraihnya akan bahagia di dunia dan akhirat. Manisfestasi keberhasilan itu ditandai dengan meninggal dalam keadaan muslim.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ﴾
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Waatala dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim." (QS. Ali ‘Imrân [3]: 102).
Sultan Ali Al-Qari berkata: Makna muslim pada ayat di atas bukan sebatas berserah diri, melainkan percaya, ikhlas, berserah dan berbaik sangka kepada Allah Subhanahu Waatala (Mirqâtul Mafâtîh syarhu Misykâtul Mashâbîh, 6/283). Ini artinya status muslim bukan sesuatu yang datang secara tiba-tiba, ia merupakan akumulasi dari seperangkat nilai keimanan, keikhlasan, penyerahan totalitas dan husnuzan (berbaik sangka) terhadap apa yang ditetapkan Allah Subhanahu Waatala.
Kesalahan yang sering muncul di tengah masyarakat ialah husnul khatimah mudah diraih dengan sungguh-sungguh beribadah di usia senja. Pandangan ini seolah mengabaikan ibadah sejak dini dan menyederhakan sebuah ibadah, padahal para ulama mengatakan seseorang meninggal sesuai kebiasaan.
Dalam sebuah ungkapan disebutkan:
مَنْ عَاشَ عَلَى شَيْءٍ مَاتَ عَلَيْهِ، وَمَنْ مَاتَ عَلَى شَيْءٍ بُعِثَ عَلَيْهِ
Barang siapa hidup di atas suatu kebiasaan atau keadaan tertentu, maka ia akan meninggal di atasnya. Dan barang siapa meninggal di atas suatu keadaan tertentu, maka ia akan dibangkitkan di atas keadaan tersebut. (Tafsîr Al-Qur’ân Al-Azîm, 3/131)
Ungkapan ini menjelaskan adanya hubungan yang erat antara pola kehidupan seseorang, keadaan ketika ia meninggal dunia, dan kondisi ketika ia dibangkitkan pada hari kiamat. Meskipun bukan hadis Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam secara lafaz, kandungannya sejalan dengan berbagai dalil Al-Qur’an dan hadis. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi bersabda: Setiap hamba akan dibangkitkan sesuai dengan keadaan ketika ia meninggal dunia. (HR. Muslim).
Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan untuk memperolehnya ialah istiqamah dalam ketaaan.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
﴿ إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ ﴾
Sesungguhnya orang-orang yang berkata: 'Tuhan kami adalah Allah,' kemudian mereka istiqamah, maka malaikat-malaikat turun kepada mereka (seraya berkata): 'Janganlah kamu takut dan janganlah bersedih hati, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.'" (QS. Fusshilat: 30)
Ayat di atas merupakan salah satu dalil terpenting tentang husnul khatimah. Di mana terdapat dua syarat utama untuk memperolehnya, yaitu iman yang benar dan istiqamah dalam menjalankan keimanan tersebut. Adapun kalimat Tuhan kami adalah Allah Subhanahu Waatala sebuah isyarat pengakuan tauhid dan keimanan yang tulus kepada Allah Subhanahu Waatala. Mayoritas ulama tafsir seperti Ibnu Katsir dan al-Qurtubi menjelaskan bahwa turunnya malaikat ini terjadi terutama pada saat menjelang kematian. Ketika seorang mukmin menghadapi sakaratul maut, malaikat datang membawa ketenangan dan kabar gembira dari Allah Subhanahu Waatala.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan husnul khâtimah merupakan akhir kehidupan yang baik yang ditandai dengan wafat dalam keadaan beriman, bertakwa, dan berserah diri kepada Allah Subhanahu Waatala. Keadaan tersebut bukanlah sesuatu yang diperoleh secara tiba-tiba menjelang kematian, melainkan hasil dari proses panjang berupa penguatan iman, keikhlasan, ketakwaan dan amal sholeh yang dilakukan secara konsisten sepanjang hidup.***

Tulis Komentar